Arthur Ashe, Mengapa Saya?

Diposting oleh: Christian Hanggra | Kamis, 23 Agustus 2012, 18:48:14 WIB
Dibaca:1208Komentar:170
Label: ,
Share with:
Pertanyaan: Mengapa saya?
Pertanyaan: Mengapa saya?
HATIKUPERCAYA.com - Arthur Ashe adalah seorang petenis kulit hitam legendaris asal Amerika. Prestasinya sungguh luar biasa. Tiga gelar grand slam, turnamen paling bergengsi tersimpan di lemari kacanya. Gelar itu adalah US Open (1968), Australian Open (1970), dan Wimbledon (1975). Sebuah prestasi yang sulit diraih pada masa itu.

Selesai berkarir di lapangan, dia pun gantung raket. Namun dia bernasib kurang bagus. Pada 1979, ia terkena serangan jantung. Dokter memutuskan ia harus operasi by pass. Dua kali operasi dijalankan agar Ashe sembuh.

Tapi bukan sembuh yang didapat. Operasi ternyata membawa bencana lain. Dari transfusi darah, dia mendapat virus yang sekarang dikenal dengan nama HIV pada 1983. Pada masa itu, pengawasan terhadap berjangkitnya virus ini memang masih rendah.

Kenyataan pahit ini ia sembunyikan kepada publik. Sampai akhirnya, pada April 1992, koran terkemuka USA Today menurunkan laporannya mengenai kondisi kesehatannya. Sontak publik pun tercengang. Kebanyakan dari mereka menyayangkan tragedi yang menimpa petenis yang rendah hati itu.

Sepucuk surat dari seorang pengagumnya pun sampai ke tangannya. Penggemar itu menyatakan keprihatinannya. Dalam suratnya, sang penggemar bertanya, "Why did God have to select you for such a bad disease?”. Pertanyaan yang biasa saja, tapi sungguh dalam, “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit ini?”

Arthur menjawab: "Begini. Di dunia ini ada 50 juta anak yg ingin bermain tenis, diantaranya:

* 5 juta orang yg bisa belajar bermain tenis

* 500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional

* 50 ribu orang datang ke arena untuk bertanding

* 5000 orang mencapai turnamen Grand Slam

* 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon

* 4 orang di semifinal

* 2 orang di final

Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon,saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, "Mengapa saya yg menjadi juara?"

Jadi ketika saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan "Mengapa saya?".

Pada 6 Februari 1993, Ashe mengembuskan napas terakhirnya. Dua bulan sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Ashe mendirikan the Arthur Ashe Institute for Urban Health. Dan beberapa minggu sebelum ia wafat, Ashe masih menyempatkan diri menulis memoarnya yang berjudul "Days of Grace".

Membaca ketulusan dan keikhlasan Ashe tidak saja menyentuh, tapi juga mengetuk hati siapa saja. Penjelasan panjang lebar tentang kemenangan di lapangan menggambarkan betapa dalam hidup kita hanya ingin mendapatkan hal-hal yang terbaik belaka dan selalu lupa untuk sekadar berucap syukur atas karunia itu. Bahkan alih-alih bersyukur, malah kesombongan yang kerap muncul di saat berada di puncak kejayaan.

Kadang sebaliknya yang terjadi pada saat kesusahan. Pertanyaan kenapa nasib buruk itu hanya menimpa pada kita kerap kali menggerundel dari mulut. Seolah-olah keburukan tidak boleh mampir melintasi dalam perjalanan hidup kita. Saat menerima cobaan, apa pun, kita bertanya kepada Tuhan "mengapa saya, mengapa bukan orang lain?" Sehingga kita merasa berhak menggugat Tuhan. Bahkan memvonis betapa tidak adilnya Tuhan.

Ashe berbeda. Dia tak pernah mengeluh dan bertanya "mengapa saya". Dia tetap teguh dalam harapan. Seberapa besar pun beban hidup yang menimpa. Baginya, kebaikan dan keburukan dari Tuhan adalah anugerah yang terindah dalam hidupnya.

Oleh karna itu mari belajar seperti Arthur Ashe yang justru memberikan penghiburan dan motivasi kepada orang yang mengeluhkan tentang dirinya. Sebuah pertunjukkan iman yang luar biasa yang sanggup justru memberikan kekuatan disaat dia membutuhkan kekuatan!

Ketika menerima sesuatu yang buruk, ingatlah saat-saat ketika kita menerima yang baik

Sumber Artikel: Berbagai Sumber

 A-  A   A+   Rating:
Komentar
 1 2 3 Next 
Kirim Komentar Anda
Nama
Email
Komentar
 Max Karakter
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di bawah.
Klik disini untuk reload kode pengaman.
* Jika anda member Hatikupercaya.com, silahkan Login atau Register
Pembaca dapat mengirimkan komentar artikel terkait yang ditampilkan dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Setiap komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Hatikupercaya.com akan menimbang setiap komentar yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menampilkan atau menghapus komentar tersebut.

Hatikupercaya.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
 
or
Username
Password